Senin, 08 Juni 2009

TUGAS UAS TAKE HOME TOKSIKOLOGI INDUSTRI MENGENAI BAHAN KIMIA



TUGAS UAS TAKE HOME

TOKSIKOLOGI INDUSTRI MENGENAI BAHAN KIMIA


DISUSUN OLEH :

DORIN MUTOIF 0806384084


DEPARTEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

FAKULTAS KESEHEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS INDONESIA

DEPOK, 2009



NAMA PRODUK : NALCO 356


NAMA KIMIA CAS NO % (w/w)


Sikloheksilamin 108-91-8 10.0 - 30.0


Keberadaaan di Lingkungan/alam :


MOBILITAS DAN POTENSI AKUMULASI-HAYATI


Nasib-dalam-lingkungan diperkirakan dengan menggunakan model fugasitas tingkat III yang tercantum dalam EPI (estimation program interface) Suite TM, yang disediakan oleh US EPA. Model ini memperkirakan kondisi tunak antara masukan dan keluaran total. Model tingkat III tidak memerlukan keseimbangan antara media yang telah ditetapkan. Informasi yang diberikan dimaksudkan untuk memberi pengguna sebuah taksiran umum tentang nasib produk ini dalam lingkungan, sesuai dengan kondisi yang ditetapkan pada model. Jika dibebaskan ke dalam lingkungan, bahan ini diperkirakan menyebar ke udara, air, dan tanah/sedimen dalam persentase taksiran masing-masing; <5% 30 - 50% 50 - 70% Bagian di dalam air diperkirakan larut atau menyebar.

Preparat atau bahan ini tidak diperkirakan mengalami akumulasi-hayati.


Keberadaan Di tempat kerja dan pemanfaatannya adalah sebagai PENGHAMBAT KOROSI

Sifat Fisik dan Kimia :


WUJUD FISIK Cair

TAMPILAN Jernih Kuning muda Hijau muda

BAU Amin

Titik Nyala 57 °C PMCC

GRAVITASI SPESIFIK 0.985 @ 15.6 °C

KELARUTAN DALAM AIR Lengkap

pH ( 100% ) 12

VISKOSITAS 5.1 cPs @ 25 °C

TITIK BEKU -8.2 °C

TEKANAN UAP 0.06 kPa @ 37.8 °C

KANDUNGAN VOC 35.4 %

Catatan: Sifat-sifat fisika ini adalah nilai tipikal untuk produk ini dan dapat berubah.


Efek Kesehatan :


BAHAYA KESEHATAN BAGI MANUSIA - AKUT


KENA MATA

Korosif. Akan menyebabkan luka bakar pada mata dan kerusakan permanen pada jaringan. Pendedahan pada uap berkonsentrasi rendah dapat mengakibatkan penglihatan berkabut atau kabur, benda tampak kebiruan dan tampak ada halo di sekeliling cahaya. Gejala ini bersifat sementara.


KENA KULIT

Dapat menyebabkan iritasi parah atau kerusakan jaringan, tergantung pada lamanya pendedahan dan jenis pertolongan pertama yang diberikan. Berbahaya jika terserap melalui kulit.


TERMAKAN

Bukan rute pendedahan yang mungkin. Berbahaya jika tertelan. Korosif, menyebabkan luka bakar pada saluran pencernaan. Mual, muntah dan sakit perut dapat terjadi. Dalam kasus parah, dapat terjadi muntah darah. Dapat menimbulkan efek dan/atau kerusakan pada hati dan ginjal.

TERHIRUP

Mengiritasi, dalam konsentrasi tinggi, pada mata, hidung, tenggorokan dan paru. Uap dapat berbau kuat menyengat yang dapat menimbulkan tanggapan indera, termasuk sakit kepala, mual dan muntah.

BAHAYA KESEHATAN BAGI MANUSIA - KRONIS

Diperkirakan tak ada efek merugikan selain yang disebutkan di atas.

BAHAYA FISIKA DAN KIMIAWI

Mudah-menyala.


PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN


KENA MATA

TINDAKAN SEGERA SANGATLAH PENTING JIKA TERKENA. Segera bilas mata dengan air sedikitnya 15 menit sambil kelopak mata dibuka lebar. Jika hanya satu mata yang kena, jangan sampai mencemari mata yang satunya lagi dengan air bilasan. Jangan ditunda-tunda, segera dapatkan bantuan medis.


KENA KULIT

TINDAKAN SEGERA SANGATLAH PENTING JIKA TERKENA. Jika terciprat banyak, bilas tubuh di bawah pancuran. Jika terjadi luka-bakar parah dan daerah kulit rusak berat, tutup daerah yang terbakar dengan bahan tidak berbulu yang bersih dan kering dan dapatkan bantuan medis. Segera dapatkan bantuan medis. Pakaian, sepatu, dan barang dari kulit yang tercemar harus dibuang atau dibersihkan sebelum dipakai kembali.


TERMAKAN

Segera dapatkan bantuan medis. JANGAN MEMAKSAKAN MUNTAH. Jika sadar, basuh mulut dan berikan air untuk diminum.


TERHIRUP

Dapatkan bantuan medis. Pindahkan ke tempat berudara segar, tangani menurut gejala.

PERHATIAN UNTUK DOKTER

Kemungkinan rusaknya selaput lendir mungkin merupakan kontraindikasi bagi penggunaan penguras lambung. Berdasarkan reaksi pasien secara perorangan, penilaian dokter harus digunakan untuk mengendalikan gejala dan kondisi klinis.


Pemantauan :

INFORMASI TOKSIKOLOGIS / BIOMONITORING

DATA TOKSISITAS AKUT :

Hasil berikut ini untuk produk dan juga hasil pada komponen berbahaya.

TOKSISITAS ORAL AKUT:

Spesies

LD50

Bahan yang diuji

Tikus

779 mg/kg

Produk

TOKSISITAS KULIT AKUT:

Spesies

LD50

Bahan yang diuji

Rabbit

2,055 mg/kg

Produk

TOKSISITAS PENGHIRUPAN AKUT:

Spesies

LC50

Bahan yang diuji

Tikus

> 12,000 mg/l (8 hrs)

Morfolina

IRITASI KULIT PRIMER:

Draize Score

Bahan yang diuji

8.0 / 8.0

Produk

Peringkat: Amat sangat mengiritasi (Korosif)

IRITASI MATA PRIMER:

Draize Score

Bahan yang diuji

110 / 110.0

Produk

Peringkat: Amat sangat mengiritasi (Korosif)

SENSITISASI :

Produk ini diperkirakan bukan merupakan bahan penyensitif.

SIFAT KARSINOGENIK :

Bahan-bahan dalam produk ini tak ada yang dicantumkan sebagai karsinogen oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), National Toxicology Program (NTP) ataupun American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH).

SIFAT MUTAGENIK :

Uji sifat mutagenik morfolina memberikan hasil berikut ini: Bioesai sifat mutagenik (Ames) bakteri ternyata negatif; transformasi pertukaran kromatid saudara ternyata positif; limfoma mencit ternyata positif lemah dan perbaikan hepatosit/DNA tikus ternyata negatif. Baterai uji sifat mutagenik sikloheksilamin ternyata tak bisa disimpulkan. Pada uji jangka-pendek, sikloheksilamin menyebabkan mutasi pada sel darah putih manusia.


Lingkungan :

EFEK EKOTOKSIKOLOGIS :

Hasil berikut ini untuk produk.

Hasil Akut pada Ikan :

Spesies

Pendedahan

LC50

Bahan yang diuji:

Ikan Rainbow Trout

96 jam

130 mg/L

Produk

Ikan Fathead Minnow

96 jam

75 mg/L

Produk

Ikan Rainbow Trout

96 jam

130 mg/L

Produk yang sama

Hasil Akut pada Invertebrata :

Spesies

Pendedahan

LC50

Bahan yang diuji:

Daphnia magna

48 jam

190 mg/L

Produk yang sama

KEGIGIHAN DAN PENGURAIAN

Permintaan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand, COD): 573,000 mg/L

Permintaan Oksigen Biologis (Biological Oxygen Demand, BOD): 1,000 mg/L

Bagian organik preparat ini diperkirakan segera mengalami penguraian-hayati.

MOBILITAS DAN POTENSI AKUMULASI-HAYATI

Nasib-dalam-lingkungan diperkirakan dengan menggunakan model fugasitas tingkat III yang tercantum dalam EPI (estimation program interface) Suite TM, yang disediakan oleh US EPA. Model ini memperkirakan kondisi tunak antara masukan dan keluaran total. Model tingkat III tidak memerlukan keseimbangan antara media yang telah ditetapkan. Informasi yang diberikan dimaksudkan untuk memberi pengguna sebuah taksiran umum tentang nasib produk ini dalam lingkungan, sesuai dengan kondisi yang ditetapkan pada model. Jika dibebaskan ke dalam lingkungan, bahan ini diperkirakan menyebar ke udara, air, dan tanah/sedimen dalam persentase taksiran masing-masing; <5% 30 - 50% 50 - 70% Bagian di dalam air diperkirakan larut atau menyebar.

Preparat atau bahan ini tidak diperkirakan mengalami akumulasi-hayati.


PENGENDALIAN /PERLINDUNGAN PRIBADI

BATAS PENDEDAHAN DI TEMPAT KERJA

Panduan pendedahan belum disusun untuk produk ini. Batas pendedahan untuk bahan ini ditunjukkan di bawah ini.

BATAS PENDEDAHAN DI TEMPAT KERJA TWA TWA STEL STEL

(ppm) (mg/m3) (ppm) (mg/m3)

ACGIH/TLV

SIKLOHEKSILAMIN 10 41

* Catatan tentang kulit menjelaskan potensi kontribusi yang signifikan akibat pendedahan menyeluruh melalui rute kulit, termasuk selaput lendir dan mata.

TINDAKAN PEMANTAUAN

Sedikit udara disedot melalui penyerap atau penghalang untuk menjerat bahan yang kemudian dapat didesorbsi atau dibuang dan dianalisis seperti yang dirujuk di bawah ini:

Bahan

Metode

Analisis

Penyerap

SIKLOHEKSILAMIN

US NIOSH: 2010

Kromatografi gas

Jelly Silika

MORFOLINA

US OSHA: CIM

Kromatografi gas

Jelly Silika


TINDAKAN REKAYASA

Gunakan sistem dosing tertutup. Penggunaan ventilasi lokal gas-buang disarankan untuk mengendalikan emisi dekat sumber. Sampel laboratorium harus ditangani di kamar asap (fumehood). Sediakan ventilasi mekanis pada ruang yang terkurung.


PERLINDUNGAN PRIBADI

NASIHAT UMUM


Penggunaan dan pilihan perlengkapan pelindung pribadi berkaitan dengan bahaya produk, tempat kerja dan cara penanganan produk . Pada umumnya, sebagai perlindungan minimum kami menyarankan penggunaan kacamata keselamatan berpenutup-samping dan pakaian kerja yang melindungi lengan, kaki dan tubuh. Di samping itu juga dengan orang yang memasuki kawasan tempat produk ini sedang ditangani.


PERLINDUNGAN SALURAN PERNAFASAN

Harus digunakan respirator yang sesuai jika batas pendedahan di tempat kerja mungkin terlampaui. Udara yang dipenuhi bahan kimia akan terganti ketika mengisi-ulang tangki cadangan. Jika harus tetap berada di dekat wadah pada saat-saat demikian dan daerah itu berventilasi buruk, harus dipakai respirator yang sesuai. Kartrid uap organik dengan prafilter debu/kabut atau pasokan udara boleh digunakan. Dalam peristiwa darurat atau adanya rencana memasuki konsentrasi yang tak diketahui, harus digunakan SCBA bertekanan positif yang menutupi seluruh wajah Jika perlindungan saluran pernafasan diperlukan, mulailah program lengkap perlindungan saluran pernafasan, termasuk pemilihan, uji kelayakan, pelatihan, pemeliharaan dan pemeriksaan.


PERLINDUNGAN TANGAN

Sarung tangan butil. Kebanyakan bahan sarung tangan kurang tahan bahan kimia. Ganti sarung tangan secara berkala.


PERLINDUNGAN KULIT

Pakai celemek tahan bahan kimia, kacamata-pelindung percikan bahan kimia, celemek dan sepatu bot kedap air. Disarankan pakaian-menyeluruh yang lebih tahan jika mungkin terjadi pendedahan menyeluruh.


PERLINDUNGAN MATA

Pakai pelindung wajah dengan kacamata-pelindung percikan bahan kimia.


SARAN KEBERSIHAN

Terapkan kebiasaan kerja yang baik dan kebersihan pribadi agar tidak terdedah. Harus ada pancuran pencuci mata. Harus ada pancuran penyelamat. Jika pakaian tercemar, lepaskan pakaian dan cuci bersih daerah yang tercemar. Cuci pakaian yang tercemar sebelum dipakai lagi.


Di Posting Oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes Depkes Yogyakarta Jurusan Kesehatan lingkungan Occupational Health and Safety, University of Indonesia Munggu, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah

Minggu, 17 Mei 2009

TEORI SOSIAL KOGNITIF



ASPEK PRILAKU

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

TEORI SOSIAL KOGNITIF

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Departement Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Universitas Indonesia

2009




BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam penerapan ilmu K3 di tempat kerja hal yang paling sulit dilakukan adalah menjadikan pola prilaku para pekerja untuk melakukan cara yang aman dan sehat dalam melaksanakan pekerjaannya. Hal ini dikarenakan sikap setiap pekerja terhadap sesuatu yang harus dikerjakan atau dilakukan itu berbeda-beda. Maka diperlukan adanya suatu cara untuk kontrol secara administratif kepada para pekerja tersebut. Ada beberapa cara kontrol adminitratif yang bisa dilakukan selain mengatur shif kerja, memberikan pelatihan atau workshop dan juga bisa dilakukan dengan memberikan training. Untuk memberikan suatu pelatihan atau training diperlukan beberapa cara pendekatan pembelajaran secara aspek sosial tertentu. Dalam penulisan ini akan dibahas sebuah teori mengenai pendekatan sosial kognitif dalam suatu proses pembelajaran yang khusunya dilakukan di tempat kerja.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang pendekatan teori aspek sosial kognitif dan aplikasinya serta contoh kasusnya di tempat kerja agar bisa memahami secara mendalam bagaimana prilaku para pekerja. Selain itu penulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Aspek Prilaku K3.

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah

Albert Bandura lahir tanggal 4 Desember 1925 di Mundare Alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Pada 1941 Miller and Dollard mengusulkan teori social learning (pembelajaran sosial). Pada 1963 Badura dan Walters menjabarkan teori social learning dengan dasar pembelajaran observasi dan pengamatan dari yang dilakukan orang lain. Badura menetapkan konsepnya dari kemampuan dirinya pada 1977, ketika dia membantah teori pembelajaran tradisional dari pemahaman pembelajaran.

Bandura menempuh pendidikan kesarjanaannyadi bidang psikologi klinis di Universitas Iowa dan mencapai gelar Ph.D. pada tahun 1952. Pada tahun 1953 Bandura bekerja di Universitas Stanford, sekarang beliau menjadi Profesor David Starr dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Ia pernah bekerja sebagai Ketua Jurusan Psikologi Stanford dan pada tahun 1974 terpilih menjadi Ketua American Psychological Association.

2.2 Latar Belakang Teori Sosial Kognitif

Teori sosial kognitif berkaitan dengan berkomunikasi dalam bidang kesehatan. Pertama, teori tersebut berkaitan dengan kognitif, aspek emosi dan aspek kelakuan untuk pemahaman dari isi ilmu-ilmu prilaku. Kedua, konsep dari teori sosial kognitif memberikan jalan untuk penelitian prilaku yang baru dalam pendidikan kesehatan. Akhirnya, pemikiran dari teori-teori yang lainnya seperti psikologi muncul untuk menetapkan pengetahuan dan pemahaman yang baru.

Teori sosial kognitif menetapkan sebuah kerangka untuk pemahaman, prediksi dan tanggung jawab dari prilaku manusia. Teori ini mengidentifikasi prilaku manusia sebagai interaksi dari faktor perorangan, prilaku dan lingkungan.

Menurut jones (1989) “faktanya bahwa variasi prilaku berdasarkan dari situasi ke situasi lainnya mungkin tidak perlu makna bahwa prilaku adalah pengendalian dari situasi tetapi juga bahwa orang dapat menafsirkan situasi secara berbeda dan bentuk yang sama dari bentuk rangsangan mungkin memancing respon yang lain dari orang yangberbeda atau berasal dari orang yang sama dari waktu yang berbeda.”

Kesimpulannya, teori sosial kognitif sangat membantu untuk pemahaman dan prediksi kedua prilaku dari individu dan kelompok dan mengidentifikasi metode pada saat perilalaku bisa termodifikasi atau berubah.

2.3 Deskripsi Teori Sosial Kognitif

Pada dasarnya, teori perilaku digunakan untuk mengubah perilaku seseorang. Dalam aspek perilaku di K3, teori-teori perilaku digunakan untuk mengubah perilaku seseorang lebih aware terhadap kesehatan dan keselamatannya.

Teori sosial kognitif adalah sebuah teori yang memberikan pemahaman, prediksi, dan perubahan perilaku manusia melalui interaksi antara manusia, perilaku, dan lingkungan (Bandura, 1986).




Interaksi antara manusia dan perilakunya melibatkan pengaruh pemikiran dan kelakuan seseorang. Interaksi antara manusia dan lingkungan melibatkan kepercayaan manusia dengan kompetensi secara kognitif yang berkembang dari pengaruh dari dalam lingkungan juga. Yang terakhir, interaksi antara lingkungan dengan perilaku manusia, berkaitan dengan pengaruh perilaku terhadap aspek-aspek dalam lingkungannya dan sebaliknya perilaku yang dipengaruhi lingkungan tersebut.

Menurut Jones pada tahun 1989, fakta bahwa perilaku berubah setiap kali situasi lingkungan berubah tidak menunjukkan bahwa perilaku tersebut dipengaruhi oleh situasi lingkungan, melainkan perilaku tersebut menunjukkan perbedaan-perbedaan situasi tersebut. Jadi terlihat perbedaan ketika stimulus yang sama menghasilkan respon yang berbeda dari orang yang berbeda atau dari orang yang sama dengan waktu berbeda.

Teori sosial kognitif digunakan untuk mengenal dan memprediksi perilaku individu dan grup dan mengidentifikasi metode-metode yang tepat untuk mengubah perilaku tersebut. Teori ini erat kaitannya dengan pembelajaran seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Teori ini menjelaskan bahwa dalam belajar, pengetahuan (knowledge), pengalaman pribadi (personal experience), karakteristik individu (personal characteristic) berinteraksi. Kemudian, pengalaman baru yang terbentuk menjadi evaluasi terhadap perilaku lama. Pengalaman perilaku yang lama akan menuntun pribadi tersebut menginvestigasi masalah-masalah yang muncul pada pengalaman saat ini.

2.4 Faktor-faktor dari Proses Belajar

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam aplikasi dari teori ini, faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi itu adalah :

1. Perhatian (Attention), mencakup peristiwa peniruan (adanya kejelasan, keterlibatan perasaan, tingkat kerumitan, kelaziman, nilai fungsi) dan karakteristik pengamat (kemampuan indera, minat, persepsi, penguatan sebelumnya)
2. Penyimpanan atau proses mengingat (Retention), mencakup kode pengkodean simbolik, pengorganisasian pikiran, pengulangan simbol, pengualangan motorik.
3. Reproduksi motorik (Reproduction), mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4. Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri (Motivation).

Selain itu juga yang harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:


1. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya. Proses mengingat akan lebih baik dengan cara mengkodekan perilaku yang ditiru kedalam kata-kata, tanda atau gambar dari pada hanya observasi sederhana (hanya melihat saja). Sebagai contoh: belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsungditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video, gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan.
2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.

2.5 Aplikasi Teori

Menurut Bandura(1977), proses mengamati dan meniru perilaku, sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori belajar dari Bandura ini tampaknya memang bisa berlaku umum dalam semua langkah pendidikan sosial, komunikasi, informasi dan instruksional di lingkungan formal maupun informal.

Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan treatment, yakni :

1. Latihan Penguasaan (desensitisasi modeling): mengajari klien menguasai tingkahlaku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takut). Tritmen konseling dimulai dengan membantu klien mencapai relaksasi yang mendalam. Kemudian konselor meminta klien membayangkan hal yang menakutkannya secara bertahap. Misalnya, ular, dibayangkan melihat ular mainan di etalase toko. Kalau klien dapat membayangkan kejadian itu tanpa rasa takut, mereka diminta membayangkan bermain-main dengan ular mainan, kemudian melihat ular dikandang kebun binatang, kemudian menyentuh ular, sampai akhirnya menggendong ular. Ini adalah model desensitisasi sistemik yang pada paradigma behaviorrisme dilakukan dengan memanfaatkan variasi penguatan. Bandura memakai desesitisasi sistematik itu dalam fikiran (karena itu teknik ini terkadang disebut; modeling kognitif) tanpa memakai penguatan yang nyata.

2. Modeling terbuka (modeling partisipan): Klien melihat model nyata, baisanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkahlaku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.

3. Modeling Simbolik; Klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita. Kepuasan vikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/meniru tingkahlaku modelnya.

Aplikasi dari teori ini berlaku untuk setiap proses pembelajaran. Misalnya belajar gerakan tari dari instruktur membutuhkan pengamatan dari berbagai sudut yang dibantu cermin dan langsung ditirukan oleh siswa pada saat itu juga. Pendekatan seperti ini dengan cara modeling terbuka. Kemudian proses meniru akan lebih terbantu jika gerakan tadi juga didukung dengan penayangan video, gambar atau instruksi yang ditulis dalam buku panduan. Sedangkan untuk hal ini termasuk tritmen dalam pendekata modeling simbolik. Jadi dalam teori ini mengutamakan proses belajar dengan cara meniru dan mempraktekan langsung.

Dalam aplikasi di tempat kerja dengan pendekatan teori ini bisa dilakukan oleh trainer pada saat melakukan training mengenai cara pengoperasian suatu alat ataupun pemakaian APD. Trainer bisa memberikan contoh sambil mempraktekan atau mengsimulasikan materi tersebut sehingga para pekerja bisa langsung meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh trainer.

Selain itu perlu juga ditayangkan dalam bentuk media yang lainnya seperti slide show ataupun video sehingga mereka mendapatkan contoh yang lainnya serta dapat pula diberikan refrensi lain dalam bentuk media cetak seperti booklet atau leaflet.

Individu tersebut akan lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya, dalam pengaplikasiannya terkadang individu bersifat tidak mengacuhkan materi yang berikan sehingga dalam hal ini bisa dilakukan beberapa cara agar individu atau pekerja tertarik untuk meniru gerakan tersebut. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan salah satu dari individu tersebut untuk menjadi model ataupun bisa membawakan model dari tokoh terkenal sehingga individu tadi merasa ingin meniru dan menerapkan hal-hal yang disampaikannya. Hal ini dilakukan karena individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai serta perilakunya mempunyai nilai manfaat.

Contoh penerapan teori belajar sisial lainnya adalah dalam iklan televisi. Iklan selalu menampilkan bintang-bintang yang popular dan disukai masyarakat, hal ini untuk mendorong konsumen agar membeli sabun supaya mempunyai kulit seperti para "bintang" atau minum obat masuk anginnya "orang pintar".

Namun dalam pengaplikasiannya ada beberapa dampak buruk dari pendekatan modeling terbuka dan juga simbolik yang secara tidak sengaja itu akan muncul dalam benak individu. Misalnya adegan kekerasan pada media televisi, ataupun video. Sebagian kecil orang yang sering menonton adegan kekerasan maka akan terpengaruh untuk menjadi lebih agresif disbanding orang yang tidak menonton film atau video tersebut.


BAB 3

Penutup

3.1 Kesimpulan

Teori sosial kognitif dari Bandura telah menjelaskan bagaimana suatu proses belajar dengan cara meniru dan juga terjadi interaksi timbal balik antara faktor lingkungan, personal dan sikap. Ketiga faktor ini saling berinteraksi dan memiliki hubungan yang sangat erat. Apabila terjadi suatu perubahan dari suatu faktor tersebut maka akan membuat perubahan pada faktor yang lainnya juga.

3.2 Saran

Dalam menyampaikan suatu materi dibutuhkan beberapa metode dan cara-cara sekaligus Untuk menerapkan teori belajar ini direkomendasikan kepada orang yang memiliki tipe learning kinestetik, yaitu cara menyampaikan materi belajar secara gerakan-gerakan dan verbal. Selain itu yang dijadikan sebagai model dalam simulasinya adalah orang-orang yang cukup dikenal atau mendapat penilaian postif oleh pendengar atau penonton.

Daftar Pustaka

Social Cognitive Theory. http://www.idea.org/page110.html. di download tanggal 10 maret 2009

Teori Sosial Bandura. http://alfaned.blogspot.com/2008/09/bab-2-teori-sosial-bandura.html di download tanggal 09 maret 2009

Social Cognitive Theory. http://www.cw.utwente.nl/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Health%20Communication/Social_cognitive_theory.doc/ didownload tanggal 10 maret 2009

Gumgum Gumilar. Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura. http://www.gumilarcenter.com/arsipartikel/teoribelajarsosial.html di download pada tanggal 10 maret 2009

Senin, 04 Mei 2009

TUGAS ASPEK PERILAKU K3 THE THEORY of RAMSEY 2

DORIN MUTOIF

TUGAS ASPEK PERILAKU K3

THE THEORY of RAMSEY






BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Penerapan ilmu K3 di tempat kerja hal yang paling sulit dilakukan adalah menjadikan pola prilaku para pekerja untuk melakukan cara yang aman dan sehat dalam melaksanakan pekerjaannya dan menghindarkan dari terjadinya kecelaakan. Hal ini dikarenakan sikap setiap pekerja terhadap sesuatu yang harus dikerjakan atau dilakukan itu berbeda-beda. Maka diperlukan adanya suatu cara/sebuah tindakan kepada para pekerja tersebut agar dapat mencapai derajat kesehatan yang aman. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan seperti pengamatan bahaya, kognitif/pengenalan, pengambilan keputusan dan kemampuan.. Dalam penulisan ini akan dibahas sebuah teori mengenai konsep bekerja yang aman menurut ramsey dalam suatu proses pembelajaran yang khususnya dilakukan di tempat kerja.

1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang pendekatan teori Ramsey dan aplikasinya serta contoh kasusnya di tempat kerja agar bisa memahami secara mendalam bagaimana prilaku para pekerja.

BAB II

Landasan Teori

Sejarah

Perilaku merupakan salah satu factor penting dalam mengupayakan keselamatan dalam suatu kegiatan dalam pekerjaan. Oleh karena itu perilaku aman perlu di terapkan dalam kegiatan di semua sector pekerjaan terutama perindustrian, pertambangan, perkebunan, agar tercipta angka kecelakaan di suatu perusahaan tidak meningkat.

Di berbagai Negara termasuk di dalamnya Amerika Serikat menerapkan safety di dunia industri, terdapat beberapa bukti di dalam pelaksanaan nya di antaranya angka kematian, frekuensi angka kesakitan, angka kesakitan akibat kekerasan.

Perilaku aman ( safety behavior ) juga di kenal berbagai macam teori, salah satunya adalah teori ramsey

A. KONSEP TEORI RAMSEY

Menurut Ramsey, perilaku kerja yang aman atau terjadinya perilaku yang dapat menyebabkan kecelakaan, dipengaruhi oleh 4 ( empat) faktor yaitu :

1. Pengamatan ( Perception )

2. Kognitif ( Cognition )

3. Pengambilan Keputusan ( Decision Making )

4. Kemampuan ( Ability )

Keempat faktor tersebut merupakan suatu proses yang sekuensial mulai dari yang pertama hingga yang terakhir. Bila keempat tahapan ini dapat berlangsung dengan baik maka akan dapat terbentuk suatu perilaku yang aman.

Ramsey Mengajukan sebuah model yang menelaah faktor-faktor pribadi yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan, sebagaimana tampak dalam gambar berikut :

Pada tahapan pertama seseorang akan mengamati suatu bahaya yang akan mengancam. Bila ia tidak mengamati atau salah mengamati adanya bahaya maka ia tidak akan menampilkan perilaku kerja yang aman. Sedang bilamana bahaya kerja teramati sedangkan yang bersangkutan tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman bahwa hal yang diamati tersebut membahayakan maka perilaku yang aman juga tidak terampil. Pada tahapan yang ketiga perilaku kerja yang aman juga tidak akan tampil bilamana seseorang tidak memiliki keputusan untuk menghindari walaupun yang bersangkutan telah melihat dan mengetahui bahwa yang dihadapi tersebut merupakan sesuatu yang membahayakan.

Begitu pula pada tahapan keempat perilaku kerja yang aman juga tidak akan tampil bilamana seseorang tidak memiliki kemampuan bertindak untuk menghindari bahaya walaupun pada tahapan sebelumnya tidak terjadi kesalahan atau berlangsung dengan baik.

Tentu saja banyak faktor-faktor individual yang juga mempengaruhi masing-masing tahapan tersebut di atas. Faktor-faktor tersebut tentunya ada yangsulit dirubah karena merupakan faktor bawaan seseorang, namun ada pula yang dapat dirubah atau ditingkatkan.

Pada tahapan pertama, dapat tidaknya seseorang mengamati faktor bahaya di dalam bekerja akan dipengaruhi.

· Kecakapan sensoris ( sensory skill )

· Perseptualnya ( perceptual skill )

· Kesiagaan mental ( state of alertness )

Pada tahapan kedua, pengenalan seseorang terhadap factor bahaya yang di amati atau teramati akan tergantung :

· Pengalaman ( experience )

· Pelatihan ( training )

· Kemampuan mental ( mental ability )

· Daya ingat ( memory ability )

Pada tahap ketiga, keputusan seseorang untuk menghindari kecelakaan akan di pengaruhi oleh :

· Pengalaman ( experience )

· Pelatihan ( training )

· Sikap ( attitude )

· Motivasi ( motivation )

· Kepribadian ( personality )

· Kecendrungan menghadapi risiko ( risk-taking-tendency )

Pada tahapan ke empat, kemampuan seseorang untuk menghindari kecelakaan di pengaruhi oleh :

· Ciri-ciri fisik dan kemampuan fisik ( physical characteristics and abilities )

· Kemampuan psikomotorik ( psychomotor skill )

· Proses-proses fisiologis ( physiological prosess )

Dari keempat tahapan di atas dapat disimpulkan bahwa keseluruhan factor pengaruh tersebut, sebagian besar merupakan faktor-faktor individual yang sesungguhnya masih dapat di tingkatkan melalui berbagai strategi pendidikan dan pelatihan yang sesuai dan tepat. Namun perlu di sadari pula bahwa betapapun telah terbentuk perilaku kerja yang aman, adanya factor chance masih memungkinkan terjadinya suatu kecelakaan kerja.

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Menurut ramsey perilaku kerja yang aman yang menyebabkan kecelakaan di pengaruhi oleh empat factor : Pengamatan ( Perception ), Kognitif ( Cognition ), Pengambilan, Keputusan ( Decision Making ), Kemampuan ( Ability ), dan dari keempat factor tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya. Apabila keempat factor tersebut berlangsung dengan baik maka dapat terbentuk lingkungan kerja yang aman.

Saran

Teori ramsey lebih cenderung merubah perilaku pada individu seseorang, tetapi tidak melihat adanya interaksi antara individu yang satu dengan yang lain dan interaksi antara individu dengan lingkungannya sehingga perlu di tunjang oleh teori-teori yang lain


Daftar Pustaka :

Mc. Cormick, Ernest J. Industrial & Oragnizational psychology, 8 TH Edition Prentice Hall. 1985

Babarik, P.1968. automobile accidents and driver reaction pattern. Journal of applied psychology, 52 ( I ) 49-54

Edwards. D.S., & hahan, C.P. ( 1980 ). A chance to happen journal of safety research, 12(2).59-67

Di posting oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes Depkes Yogyakarta Jurusan kesehatan lingkungan Occupational Health and safety, university of Indonesia Munggu, Petanahan, Kebumen

Kamis, 30 April 2009

Institut Islam Pertama di Daratan Latin Dibuka

Jalan2 mengelilingi kampus Hijau UI dengan sepeda UI

Institut Islam Pertama di Daratan Latin Dibuka

Sao Paulo,
Kabar baru bagi dunia Islam. Institut pelatihan imam dan pengkhotbah (muadzin) yang pertama untuk seluruh daratan Amerika Latin akan segera dibuka. Tepatnya di Brazil, dan merupakan solusi kebutuhan akan ulama-ulama yang semakin meningkat.

"Institut akan membuka pintu latihan Maret mendatang," ujar Abdelbagi Sidahmed Osman, direktur eksekutif Institut Kajian Islam Amerika Latin, seperti dikutip IslamOnline.net.

"Ini akan menjadi pertama kalinya, bukan hanya untuk Brazil tapi seluruh Amerika Latin," imbuhnya.

Berpusat di kota Maringa, utara negara bagian Parana, institut Islam pertama itu akan fokus dalam pengajaran kajian agama Islam dan melatih para imam.
Lembaga itu bakal memiliki 12 staf pengajar, dengan 6 di antaranya dari luar negeri.

Institut berharap sekitar 150-250 siswa lulusan sekolah menengah atas mendaftar dan setiapnya akan dikenai biaya 1.000 dolar AS (sekitar 12 juta-an) untuk masa studi dua tahun yang terbagi dalam enam caturwulan.

"Sejauh ini hanya siswa dari Maringa yang mungkin mampu mendaftar, tapi kita merencanakan pembangunan asrama segera, sehingga siswa dari luar Brazil dapat belajar di institusi ini," ujar Osman.

Namun, institut juga akan menawarkan program belajar jarah jauh melalui dunia maya untuk melayani mereka tertarik mengambil kurikulum saat ini. Osman mengatakan kelulusan akan diberikan berdasar akreditasi yang diakui lokal maupun internasional

"Kami sudah berkordinasi dengan pemerintah Brazil dan sejumlah universitas terkemuka dari negara-negara Muslim untuk mengkreditasi kualitas kelulusan kami," ujarnya.

Institut ini muncul sebagai respon masyarakat muslim atas kurangnya imam dan pendakwah. "Brazil dan negara Amerika Latin lain menghadapi masalah sama, kekurangan imam baik lokal maupun asing," ujar Osman.

Ada sekitar 120 masjid plus pusat Islam di penjuru Brasil, dan dua pertiganya terabaikan karena tak ada imam dan muadzin. Berdasar situs maya resmi institut, Brazil hanya memiliki 50 imam, dan dari jumlah itu hanya sedikit yang bisa berbicara bahasa Portugis, bahasa resmi Brazil.

"Sebagian besar imam asing datang dari Al-Azhar," jelas Osman, merujuk pada Institusi pendidikan tinggi ternama berbasis di Kairo, Mesir.

"Mereka tinggal di sini paling lama dua tahun. Tentu itu tidak cukup untuk mempelajari budaya dan bahasa negara ini," kata Osman lagi.

Kini ada 27.239 Muslim di Brazil, menurut sensus terakhir pada tahun 2001. Namun Fedaris Islam Brazilia menyatakan angka sekitar 1,5 juta populasi. Mayoritas merupakan keturunan imigran Syria, Palestina, dan Libanon yang menetap di negara itu saat Perang Dunia I dan tahun 1970-an.


Di Posting Oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes Depkes Yogyakarta Jurusan Kesehatan lingkungan
Occupational Health and Safety, University of Indonesia
Munggu, Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah

Kamis, 02 April 2009

Sejarah K3 di Indonesia



Sejarah K3 di Indonesia

Perkembangan Higene Industri di Indonesia tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya, namun perkembangan Higene Industri di Indonesia yang sesungguhnya baru dirasakan beberapa tahun setelah kita merdeka yaitu pada saat munculnya Undang-undang Kerja dan Undang-undang Kecelakaan. Pokok-pokok tentang Higene Industri dan Kesehatan Kerja telah dimuat dalam Undang-undang tersebut, meski tidak atau belum diberlakukan saat itu juga.

Selanjutnya oleh Departemen Perburuhan (sekarang Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi) pada tahun 1957 didirikan Lembaga Kesehatan Buruh yang kemudian pada tahun 1965 berubah menjadi Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Buruh. Dan pada tahun 1966 fungsi dan kedudukan Higene Industri didalam aparatur pemerintahan menjadi lebih jelas lagi yaitu dengan didirikannya Lembaga Higene Perusahaan (Higene Industri) dan Kesehatan Kerja di Departemen Tenaga Kerja dan Dinas Higene Perusahaan/Sanitasi Umum serta Dinas Kesehatan Tenaga Kerja di Departemen Kesehatan. Disamping itu juga tumbuh organisasi swasta yaitu Yayasan Higene Perusahaan yang berkedudukan di Surabaya.

Untuk selanjutnya organisasi Hiperkes yang ada dipemerintahan dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan-perubahan dengan nama-nama sebagai berikut :

· Pada tahun 1969 Lembaga Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja berubah menjadi Lembaga Nasional Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.

· Pada tahun 1978 berubah menjadi Pusat Bina Higene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

· Pada tahun 1983 berubah lagi menjadi Pusat Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja.

· Pada tahun 1988 berubah menjadi Pusat Pelayanan Ergonomi, Higene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

· Selanjutnya pada tahun 1993 berubah lagi menjadi Pusat Higene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

· Pada tahun 1998 berubah lagi menjadi Pusat Hiperkes dan Keselamatan Kerja.

· Nama tersebut pada tahun 2001 berubah pula menjadi Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes.

· Dan pada akhir tahun 2005 menjadi Pusat Keselamatan Kerja dan Hiperkes

Jadi jelas bahwa pengembangan Higene Perusahaan (Higene Industri) di Indonesia berjalan bersama-sama dengan pengembangan Kesehatan Kerja yaitu selain melalui institusi, juga dilakukan upaya-upaya melalui penerbitan buku-buku seperti Ilmu Kesehatan Buruh (1965). Ilmu Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (1967), Ergonomi dan Produktivitas Kerja. Majalah Triwulan Higene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Keja dan Jaminan Sosial juga buku-buku Pedoman Hiperkes dan Keselamatan (semacam penuntun Penerapan Hiperkes dan Keselamatan Kerja di Perusahaan) serta leaflet tentang panduan kerja di laboratorium Hiperkes dan lain-lain yang disebar luaskan ke seluruh pelosok Tanah Air.

Kegiatan lain seperti Seminar, Konvensi, Lokakarya, Bimbingan Terapan Teknologi Hiperkes dan Keselamatan Kerja diadakan secara terus-menerus. Dalam pembinaan personil dilaksanakan dengan menyelenggarakan kursus dan latihan di dalam negeri, disamping pendidikan formal baik yang diselenggarakan di dalam maupun di luar negeri.

Dari segi Perundang-undangan yang berlaku, yaitu Peraturan Perundangan yang menyangkut Hiperkes yang terdapat di dalam Undang-Undang, Peraturan Menteri dan Surat Edaran Menteri telah banyak diterbitkan.

Upaya pembinaan Laboratorium Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang dimulai sejak tahun 1973 sampai dengan tahun 1993 telah berdiri 14 laboratorium Balai Hiperkes dan Keselamatan kerja yang terletak di 14 propinsi.

Sumber: pusat hiperkes

Diposting Oleh : Dorin Mutoif, Poltekkes depkes Yogyakarta Jurusan kesehatan lingkungan
Occupational health and Safety, university of Indonesia
munggu, Petanahan, kebumen